5 Fakta Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman

Kota Jogja atau biasa juga disebut dengan Kota Gudeg adalah salah satu kota yang sangat terkenal dan khas sebagai kota budaya. Kota ini tidak hanya kaya akan tradisi budaya, tetapi juga penuh dengan warisan budaya yang telah dilestarikan hingga hari ini. Salah satu bangunan cagar budaya di Jogja adalah Masjid Pathok Negoro Plosokuning.

Masjid Pathok Negoro Plosokuning melaporkan dari berbagai sumber yang dapat dipercaya dan terletak di Jalan Plosokuning Raya 99, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Pada awal pembangunannya, pembangunan masjid itu menjadi benteng spiritual Istana Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah banyak literatur di istana, masjid ini adalah masjid tertua di Jogja. Umurnya hampir tiga abad.


5 Fakta Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman

Masjid Pathok Negoro Plosokuning adalah bagian dari rancangan agung Sultan Hamengkubuwono I untuk Istana Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini sangat tua, berusia ratusan tahun, kata Takmir, kepala Masjid Plosokuning, Pardi Tompo, manajer warisan budaya. Selanjutnya secara lengkap:

Asal usul penamaan masjid

Berbagai sumber terpercaya melaporkan bahwa kisah memberi masjid nama Plosokuning direkam secara spontan. Namanya berasal dari pohon yang disebut Pohon Ploso, yang tidak jauh dari masjid. Jumlah daun kuning pohon itu menjadi inspirasi bagi nama masjid, yang kemudian mendapat nama Plosokuning.

Selain itu, nama Pathok Negoro terutang kepada para imam yang diberi wewenang untuk menjaga masjid pada waktu itu dan yang juga memainkan peran penting sebagai penasihat kerajaan. Karena itu mereka memanggil orang Jawa pada waktu itu Pathok Negoro.

Masjid tertua di Jogja

Menurut Pardi Tompo, masjid di bagian utara Jogja adalah masjid tertua di Jogja. Ini merujuk pada banyak tulisan dan literatur di istana.

Jika merujuk pada banyak tulisan atau literatur di istana, ini memang merupakan masjid pertama dan tertua di Jogja. Menurut catatan sejarah, istana ini didirikan oleh Ngayogyakarta pada 1755, sedangkan masjid sudah ada sejak 1724, kata Pardi Tompo , dikutip dari berbagai tempat tepercaya.

Pertahankan tradisi leluhur

Meskipun zaman terus berubah, Masjid Pathok Negoro Plosokuning masih mempertahankan tradisi Islam warisan. Beberapa tradisi ini termasuk ritual Sholawatan, Sahari dan Ruwahan. Ketika tradisi itu terjadi, banyak orang di luar Jogja tertarik mengikuti tradisi itu.

Karena selain pelestarian masjid fisik, yang memiliki sejarah besar, tradisi Islam dan budaya Jawa harus dilestarikan di sini terus-menerus, kata Pardi Tompo.

Warisan Pangeran Mangkubumi dengan baik

Tidak jauh dari masjid adalah peninggalan sebuah sumur tua yang dulunya adalah wisma Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I. Air mancur ini terletak di sebelah selatan masjid.

Wisma ini dilaporkan dari berbagai sumber yang dapat diandalkan dan dulunya merupakan perhentian atau akomodasi milik istana. Kata pesanggrahan itu sendiri sering digunakan dalam dokumen peninggalan Belanda untuk menggambarkan tempat itu.

Pesantren di sekitar masjid

Suasana masjid semakin semarak dan semarak melalui pendirian beberapa pesantren di sekitar masjid. Menurut Kamal, sekolah asrama baru berusia 15-20 tahun.

Pesantren pertama di masjid ini. Itu dibangun tak lama setelah masjid selesai. Lalu ada beberapa pesantren lainnya. Sejauh ini sudah ada 6 pesantren. Tapi itu belum lama, mungkin hanya sekitar 10-15 tahun. dari mereka baru, kata Pardi Tompo, mengutip dari berbagai sumber yang dapat dipercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *